“Mobile Brigade Polisi Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 Di Yogyakarta”

0
57

 

Kepolisian mengirimkan kesatuan Mobile Brigade dalam melakukan serangan umum 1 maret 1949. Pasukan Mobrig tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berkekuatan kurang lebih 100 orang langsung di bawah pimpinan Subroto Darsoprayitno berkedudukan Dukuh Manulis, Kelurahan Sumber Sari Kecamatan Moyudan. Kelompok II yang berkekuatan kurang lebih kurang lebh 100 orang dipimpin oleh M. Ayaiman berkedudukan di Kelurahan Ngijon Kecamatan Moyudan Yogyakarta.
Dalam melakukan serangan tersebut, pasukan yang telah dibagi menjadi dua kelompok menyerang pasukan Belanda melalui tiga arah. Dari arah barat kompi Mobile Brigade di bawah pimpinan Subroto Darsiprayitno berkedudukan di Manulis, Sumbersari, Moyudan bergerak menuju kota Yogyakarta. Kompi ini memperkuat markas komando Subwherkeise 103 A pimpinan H.N. Sumual Dari arah Selatan kompi MBB-DKN terdiri dari Seksi Kompi Johan Suparno yang bermarkas di sekitar Kotagede dan kompi kecil pasukan Musiman yang bermarkas di Ganjuran Bantul bergerak melalui jalan desa masuk kota Yogyakarta. Kompi ini memperkuat Subwherkeise 102 pimpinan Mayor Sardjono. Dari arah utara kompi polisi Pimpinan Sumarjan yang berkedudukan di Rejondan, Sleman menuju Yogyakarta untuk memperkuat SWK 104 pimpinan Mayor Soekarso

 

 

Pasukan mobile Brigade Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terlibat langsung dalam serangan Umum 1 Maret 1949 adalah pasukan kelompok II dibawah pimpinan M. Ayatiman, ditambah dengan 1 regu dengan kelompok I dibawah pimpinan M. Sarjono. Pasukan Kelompok II dibagi dalam 3 seksi, masing- masing dipimpin oleh Agen Polisi I Jilian, Ajun Polisi I Jihan, Agen Polisi I langdung Harsono dan Ajun Polisi I Sugiyo. Kompi Ayatiman bergerak menuju Lempuyangan. Mereka bertemu dengan pasukan Belanda yang bergerak dari daerah Sosrowijayan ke arah timur. Dalam kontak senjata yang terjadi antara kedua pasukan itu, seorang anggota kompi ayatiman gugur. Akan tetapi, kompi ini tetap mempertahankan lempuyangan sampai ke bagian Barat jalan Malioboro dari serangan musuh. Di tempat lain, kompi Subroto berkekuatan dua peleton yang masing-masing dipimpin oleh Sugiyo dan Jilan melancarkan serangan terhadap kedudukan di Patuk. Pasukan Belanda tidak mampu bertahan dan mengundurkan diri. Selanjutnya, daerah Patuk dikepung oleh kompi subroto.
Kedudukan Belanda di Pojok Benteng Timur diserang oleh Kompi Dhohan Suparni. Serangan itu gagal karena pertahanan Belanda di tempat ini sangat kuat. Selain pasukan Mobile Brigade, anggota kepolisian yang terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah Polisi Pelajar Pertempuran (P3). Anggota kepolsian tersebut yang masih mengenyam pendidikan kepolisian, karena dalam situasi peperangan maka mereka harus ikut terjun dalam peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan Polisi Pelajar Pertempuran (P3) dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, seksi II Agen Polisi Kairun, Seksi Agen Polisi Supardan dan Seksi Agen Polisi Sukidjo. Salah satu anggota Kepolisian dari Seksi II yang bernama M.A. Tari bersama temannya bertugas untuk menyerang Pos Belanda yang berada di sebelah timur pojok Benteng Wetan. Seksi II Agen Polisi Supardan mendapatkan tugas ke Karangkajen dan sebagian memperkuat pasukan yang ada di pojok Benteng Wetan. Seksi Ajun Polisi Sukidjo (Seksi Senjata Berat) mendapat tugas ke Pleret.

Sesuai dengan instruksi dari Mayor Sardjono, Inspektur Polisi II Johan Soeparno pada tanggal 28 Februari 1949 mengadakan brifing atau pengarahan kepada semua pasukannya. Briefing dilaksanakan pada pukul 16.00 di Markas Besar Banyakan Yogyakarta. Setelah semua persiapan matang, maka serangan pun akan dilakukan. Pada tanggal 1 Maret 1949 pasukan Polisi Pelajar Pertempuran mulai mempersiapkan diri untuk memulai serangan. Pada jam 06.00 pasukan Polisi Perjuangan pun mengambil posisi untuk bergerak serentak untuk melakukan penyerangan ke kota Yogyakarta dari berbagai penjuru. Pasukan yang dipimpin oleh M.A. Tari mencoba untuk menyerang tangsi tangsi Belanda. namun karena pasukan M.A. Tari itu lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan Belanda, maka mereka menarik diri ke markas Polisi Pelajar Pertempuran di Banyakan. Selain itu pasukan Seksi Kairan dan Seksi Supardal harus mengundurkan diri ke daerah Pojok Benteng Wetan Yogyakarta. Mundurnya pasukan Polisi Pelajar Pertempuran ke daerah tersebut membuka peluang bagi pasukan Belanda untuk masuk ke Kotagede. Akibat tekanan yang terus dilakukan oleh pasukan Belanda, kekuatan pasukan Polisi Pelajar Pertempuran menjadi melemah sehingga komandan Djohan Soeparno menginstruksikan untuk terus mengundurkan diri. Pada akhirnya pasukan Polisi Pelajar berhasil meloloskan diri dari cengkraman serangan musuh dan tidak ada korban jiwa atas penyerangan pasukan Belanda tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here