PERJUANGAN BATALYON 1 MOBILE BRIGADE BESAR JAWA TIMUR DI TLOGOWARU MALANG

0
76
Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru terletak di perbatasan antara Desa Tlogowaru dan Desa Genengan. Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru menceritakan peristiwa sejarah tentang penyerbuan terhadap anggota Mobile Brigade Polisi oleh pasukan Belanda.
Adapun peristiwanya sebagai berikut:
Pada agresi militer Belanda pertama, 21 Juli 1947, pasukan Republik kembali masuk ke Kota Malang untuk dipertahankan dari serbuan pasukan Belanda , salah satunya Yon 1 Mobile Brigade Besar Jawa Timur atau disingkat dengan Yon 1 MBB Jawa Timur. Pasukan Polisi yang membuat lini pertahanan di daerah Tlogowaru Malang. yon 1 Mobile Brigade Besar Jawa Timur dipimpin oleh IrPol. Tk. 1 R. wiratno, bersama kesatuan perjuangan lainnya melakukan pertahanan di sepanjang Sungai Manten yang membujur dari barat ke timur (arah desa Krebet). Saat pasukan Belanda menyerang dan menduduki Kota Malang. Adapun Yon 1 Mobile Brigade Besar Jawa Tmur membuat pertahanan di desa Tlogowaru, perbatasan dengan kecamatan Tajinan. Dipilihnya Desa Tlogowaru oleh Yon 1 Mobile brigade Besar Jawa Timur agar dapat menjalin komunikasi dengan staf komandonya di Desa Tajinan sebelah timur posisi mereka berada.
Yon 1 Mobile Brigade Besar Jawa Timur sambil bertahan mengadakan gangguan dan serangan terhadap tentara Belanda. Tentara Belanda membalas dengan melakukan serangan balik ke pertahanan Kompi PIP 1 Surapati di Desa Tlogowaru pada tanggal 10 September 1947. Terjadi pertempuran satu persatu antara tentara Belanda dengan anggota Mobile Brigade.
Mendengar ada suara tembak menembak di Tlogowaru maka Kompi cadangan Mobile Brigade di daerah Buring segera melakukan bantuan karena Buring dan Tlogowaru tidak jauh. Dengan adanya bantuan tersebut Kompi PIP 1 Surapati bertambah kekuatan tempurnya. Pasukan Belanda terdesak dan kabur kearah Kota Malang dengan kerugian yang amat banyak, baik tewas maupun luka-luka. Sementara itu, di pihak Kompi PIP 1 Surapati ada 14 orang Mobile Brigade yang gugur.
Dua bulan setelah peristiwa serangan ke pertahanan Kompi PIP 1 Surapati di Desa Tlogowaru pada tanggal 10 September 1947 yang mengakibatkan kekalahan di pihak Belanda. Pada tangal 9 November 1947, pasukan Belanda di Kendal banyak dikirim kembali ke sebelah barat Tlogowaru untuk aksi pembalasan ke Yon 1 Mobile Brigade Besar Jawa Timur, yang jarak antara Kendal Payak dan Tlogowaru -+ 3,5 km. Desa Kendal Payak merupakan pos II pasukan Belanda sebagai tempat peralatan perang dan transportasi, seperti tuk yang digunakan untuk mengangkut para tawanan perang yang kemudian dibawa ke pusat kota dan diinterogasi. Saat peristiwa penyerangan itu bertepatan dengan bulan purnama perkiran jam 02.00 pagi. 200 pasukan Belanda datang menyerbu tempat peristirahatan anggota Mobile Brigade Polisi.
Menurut saksi mata dan sekaligus korban yang bernama Warimin, ia melihat belanda datang dari arah barat Tlogowaru dengan menembaki rumah penduduk. Setelah sampai di desa Genengan, pasukan Belanda mulai memisahkan diri membentang dan mengelilingi desa. Dalam penyerbuan tersebut, pasukan Belanda mengambil senjata milik anggota Mobile Brigade yang sebelum tidur mereka menyembunyikan terlebih dahulu. Senjata yang disembunyikan jauh dari tempat anggota Mobile Brigade istirahat dan ditutupi dengan batang pisang yang tidak memungkinkan pihak Belanda mengetahui kecuali mereka menyusupkan seorang mata-mata.
Kusno, Durrakim, warimin, dan Ali Basor yang sedang keliling penjagaan desa di wilayah barat Tlogowaru dan dari wilayah timur Sawi, Taki, Dukah, Tami, dan Poniran ditangkap pasukan Belanda. Mereka semua diikat dengan tali yang terbuat dari kulit kayu. Kemudian berjajar dipinggir parit, ditendang dan dipukul menggunakan senjata. Setelah mereka mengikat dan menyiksa para penjaga desa bersamaan dengan itu anggota Mobile Brigade yang berada di dalam rumah Narijah diserang. Setealah mereka terbangun ditusuk menggunakan bayonet, ada pula yang terlebih dahulu diseret keluar rumah kemudian ditusuk. Hampir semua korban yang tewas isi perut mereka terurai keluar. Tiga anggota Brigade Mobile yaitu, Suwaji, Darmaji, dan Diono selamat dalam kejadian itu karena sempat melarikan diri kearah selatan dan menceburkan diri ke sungai. Sedangkan anggota lain ditemukan tewas terbakar diatas tumpukan sampah kedelai. Seorang anggota Mobile Brigade ada yang menyiasati tubuhnya dengan melumuri darah yang diambil dari tubuh temanya yang telah tewas dengan bersembunyi di bawah tempat tidur.
Kekejaman Belanda tidak hanya sampai disitu saja, jasad para anggota Mobile Brigade Polisi disandingkan pada tebing bukit, sehingga terlihat seperti dalam keadaan berdiri. Mereka yang gugur antara lain:
Agen Polisi I Abdul Rachman
Agen Polisi I Sukardi
Agen Polisi I Abdul Madjid
Agen Polisi II Soebadi
Agen Polisi II Selo
Agen Polisi II Ponidjan
Agen Polisi II Amat
Agen Polisi II Koesaeri
Agen Polisi II Dirman
Agen Polisi II Imam
Agen Polisi II Satelim
Setelah anggota Mobile Brigade Polisi diyakini telah tewas, pasukan Belanda pergi dengan menmbaki rumah-rumah penduduk menggunakan senjata milik anggota Mobile Brigade Polisi yang telah gugur. Mereka kembali ke arah barat menuju daerah Kendal Payak bersama tawanan yang terdiri dari 4 anggota Mobile Brigade dan penduduk desa yang lain.
Sebagian tawanan ada yang dilepaskan, akan tetapi tidak diketahui apa yang menjadi sebab sehingga mereka dilepas. Suasana desa Tlogowaru dan Genengan setelah pertempuran yang semula warga bersembunyi, keluar dan datang ke tempat kejadian untuk melihat dan menolong korban yang masih selamat. Saat itu banyak penduduk yang melihat jasad para anggota Mobile Brigade Polisi gugur dengan cara yang tidak wajar dan berbagai posisi yang berbeda-beda, darah berceceran dimana-mana, dan banyak rumah-rumah terbakar. Jasad para anggota Mobile Brigade Polisi dibawa ke tempat asal mereka, karena tidak semua berasal dari Malang. Namun, masih dalam satu Provinsi Jawa Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here